Rabu, 28 Januari 2009

tauhid sosial

Tauhid Sosial

Oleh: Abi Suyanta, S.Ag., M.SI.

Serasa cepat waktu berlalu dan begitu sempit hari-hari yang telah kita lewati, seakan jaman terus berjalan tanpa kenal kompromi. Perubahan-perubahan terus terjadi dan berbagai macam kejadian telah kita alami. Kita baru saja menyambut awal tahun baru dengan berbagai cara untuk mengekpresikan suka cita. Ada yang dikemas dalam bentuk pengajian, muhasabah ataupun renungan. Namun tak sedikit dari saudara kita yang menyambutnya dengan hura-hura, menghamburkan uang dengan jalan yang tidak sesuai dengan syari’at-Nya.

Di sisi lain, bagi saudara kita yang baru saja melaksanakan ibadah rukun Islam yang kelima (Haji), pulang ke tanah air. Mereka oleh saudara, karib-kerabat, handaitoulan di menyambutnya dengan penuh rasa haru, bersuka cita atas keselamatan dan keberhasilannya menunaikan segala rukun dan wajib haji dengan diselimuti do’a semoga haji mereka mabrur. Karena haji mabrur tiada balasan kecuali surga, begitulah bunyi sebuah hadis yang polpuler kita dengar.

Namun perlu dingat, bahwa untuk melihat dan mengukur ke-mabruran atau tidaknya haji seseorang, tiadalah seorangpun yang bisa, kecuali Allah SWT yang Maha Mengetahui. Kemabruran haji tidak bisa diukur dengan frekuensi kehadiran di Makkah. Sebenarnya hampir dapat dikatakan “mudah” menilai ibadah haji seseorang mabrur atau tidaknya. Jika menilai ibadah puasa (baca: Ramadhan) sesorang itu diterima dengan melihat peningkatan ibadah di bulan lainnya, maka kemabruran haji seseorang diukur dengan meningkatnya baik amaliyah vertikal (ma’a al-Khaliq) maupun amaliayah horizontal (ma’a al-Makhluq) atau amal sosial pada lingkungan setelah kepulangannya di tanah air. Dengan demikian sepertinya sia-sia bagi mereka yang melakukan shalat, puasa, zakat dan haji tetapi tersenyum dan berasyik ria tatkala manusia miskin papa menderita, tertawa tatklala rakyat menangis, dan berlomba-lomba menimbun harta dan dolar tatkala umat kelaparan serta kebingungan atas pemenuhan bahan-bahan pokok mereka.

Dalam kaitan ini, kiranya layak untuk kita cermati dan renungi kembali Hadis Nabi sebagaimana informasi dari sahabat Abi Yusuf 'Abdullah Ibn Salam:

قال: سمعتُ رسولَ اللهِ ص. م. يَقولُ: ياأيهاَ الناَّسُ إِفْشَاءُ الَّسلاَمِ, وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ, وَصِلُوا اْلأَرْحَامِ, وَالصَّلاَةُ بِالَّليْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ, تَدْخُلُ اْلجَنَّةَ بِسَلاَمِ.

Dalam hadis tersebut setidaknya ada empat tausiyah Rasulullah yang harus dipahami dan diamalkan sebagai tolok ukur dan upaya melestarikan kemabruran ibadah haji. Pertama: Nabi mengajak kepada kita untuk selalu menebarkan salam kasih sayang dan perdamaian, dalam arti salam yang lebih luas integral menyatu sesuai dengan tingkat dan kemampuan kita masing-masing. Kalau kita sebagai orang awam, maka perbanyaklah mengucapkan salam dan do'a kepada sesamanya. Kalau kita sebagai penguasa/pemimpin tebarkanlah salam kasih sayang kepada seluruh rakyat dan umat, dalam arti salam yang lebih luas lagi, yaitu keselamatan, perdamaian, kesejahteraan dan ketentraman kepada rakyatnya, bukan malah sebaliknya selalu membuat enemy serta ketakukan yang tak kunjung padam.

Mengucakan salam pada prinsipnya adalah jaminan keselamatan bagi orang yang diberi salam. Siapapun yang bersanding dengan orang yang beriman semestinya merasakan kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan baik harta-benda, harga diri, aib/cacat yang dimilkinya maupun hak-hak yang melekat padanya. Merasakan kemabruran haji adalah ketika mampu menghindarkan diri dari perbuatan, sikap maupun perkataan yang dapat menyakiti dan merugikan orang di sekitarnya, karena salam adalah keselamatan dan kedamaian bukan saja untuk dirinya melainkan juga untuk orang lain. Salam, juga bermakna ramah, rendah hati dan penuh hormat. Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 263: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun” .

Sekalipun pemberian itu sangat baik, tetapi jika disampaikan dengan tidak ramah menjadi kontra produktif, boleh jadi dapat menghilangkan pahala, malah mendapat dosa karena menyakitkan hati orang lain, inilah yang dimaksud ibadah fatamorgana. Ucapan Salam juga mengandung makna janji pelayanan. baik antara anggota keluarga, karyawan dengan pimpinan, pemerintah dengan rakyatnya. Begitu pula ikrar/janji setia dalam pernikahan, pernyataan dan sumpah janji jabatan merupakan ungkapan salam yang diwujudkan dalam bentuk situasional. Tidak melaksanakan janji jabatan atau meninggalkan tanggungjawab merupakan pertanda belum melaksanakan amanah salam dengan baik.

Kedua: pesan Rasulullah SAW إِطْعَامُ الطَّعَام berikanlah bantuan dan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan, fakir-miskin, yatim piatu dan anak-anak yang terlantar semuanya adalah tanggung jawab kita bersama. Janganlah kita rampas hak-hak mereka, janganlah kita tumpuk kekayaan dengan jalan mencekik orang-orang miskin, akan tetapi cukupilah keperluan mereka dan ratakan kemakmuran, karena pada hakekatnya harta yang kita miliki ada sebagian hak yang harus diberikan kepadanya. Bukankah mengenai hal ini telah dijelaskan oleh Allah dengan sangat gamblang sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Ma'arij: 24-25;

وَالَّذِيْنَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُوْمٌ. لِلسَّائِلِ وَ اْلمَحْرُوْمِ.

Artinya: "dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, yaitu bagi orang (miskin) yang meminta-minta dan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta-minta)".

Editor/Penyelaras Akhir: Kang Moe’in. (bersambung pada episode akan datang).

Senin, 26 Januari 2009

real madrid

welcome to real madrid 
!!! i love you !!!